merah di beranda

di beranda  
meja kayu sepi 
secangkir kopi dan matahari tenggelam
sama-sama berhalaman lengang parkir 
menjemput sebab menunggu itu

ku ingat suatu hari
katamu; langit di kota ini 
sepenuhnya selalu repot 
berdandan merah tembaga
merah yang penuh mantra-mantra
merah yang mudah jatuh hati 
merah yang di bibir jendela berpasir 
juga pintu itu 
adalah tiket pulang 
dari seluruh tujuan pergi 

lalu dari sudut yang redup
semua nampak begitu gugup
lagu-lagu kesukaan berirama lambat 
mengalun juga sore itu
satu satu hari lalu bertemu di beranda 
kemudian merah 
dan saling berpamitan  

Komentar

Postingan Populer