memoria

aku telah di sini ketika kota ini terus bertumbuh

trotoar seukuran  tiga daun jendela kamarmu

kini bergeliat memangkas rimbun angsana dan trembesi 

berganti itu gedung hunian 

juga kedai makan minum tempat senja biasa bersolek


engkau di mana?

di ujung jauh mataku terjatuh betapa kini kian tak ada

sedang sungguh denyut malam masih memilih suara tengkar itu yang pernah muda 

di bawah layang jembatan

di bawah rinai yang tak terhitung

di bawah pisau matamu yang pernah menghunus dugaan-dugaan 


o, Tuhan 

siapa tepat lebih dahulu untuk memulang seluruh pergi

mengakui salah apa saja dan entahlah

sungguh itu betapa laut dan ombak bergulung-gulung sudah


lalu bulan di kepala

memilih nasibnya sendiri dari putih perunggu

juga dingin sepi yang berhasil

membakar namamu 

wajahmu 

jadi ungun api berlama-lama  



Komentar

Postingan Populer