dari jendela
musim hujan masih meninggi di halaman
jalan-jalan menuju desa
menuju sepi muara langit abu-abu
dan rebah dedaun rambutan itu
aku menerkanya akan sembunyi di balik sendal anak-anak tetanga
dari jendela
angin menghunus pisau
semacam berniat membuat lubang besar dalam dadaku
menaruh debur ombak yang pulang ke jantung waktu
ketika mataku pejam arang
lalu bara merindu seketika
engkau, apakah senantiasa tamasya seperti ini?
jalan-jalan menuju desa
menuju sepi muara langit abu-abu
dan rebah dedaun rambutan itu
aku menerkanya akan sembunyi di balik sendal anak-anak tetanga
dari jendela
angin menghunus pisau
semacam berniat membuat lubang besar dalam dadaku
menaruh debur ombak yang pulang ke jantung waktu
ketika mataku pejam arang
lalu bara merindu seketika
engkau, apakah senantiasa tamasya seperti ini?
Komentar