pada suatu malam ketika berhasil meninggalkan telepon genggam
jingga pecah singkat menuruni anak tangga
waktu seakan ditinggalkan telepon genggam
dipeluk laut, sunyi menebal tebing karang Pecatu
memadamkan lampu suara-suara
dalam perjalanan rencana membedah manis daging ikan kakap
peluhku kian menghisap kobar api yang memerah Alengka
menerjemah kisah duka lara tak asing
begitu tenang melingkari malam di jemarimu
lalu kata-kata bergairah di Jimbaran
mengalir bunga kupu-kupu dari buku-buku
seketika ombak, pasir
dan tiupan angin bermain perahu
aku gempita memasuki dirimu berkali lagi
diam-diam menyulam sajak
dan tak pernah sanggup menyembunyikannya
dari rembulan mata itu
waktu seakan ditinggalkan telepon genggam
dipeluk laut, sunyi menebal tebing karang Pecatu
memadamkan lampu suara-suara
dalam perjalanan rencana membedah manis daging ikan kakap
peluhku kian menghisap kobar api yang memerah Alengka
menerjemah kisah duka lara tak asing
begitu tenang melingkari malam di jemarimu
lalu kata-kata bergairah di Jimbaran
mengalir bunga kupu-kupu dari buku-buku
seketika ombak, pasir
dan tiupan angin bermain perahu
aku gempita memasuki dirimu berkali lagi
diam-diam menyulam sajak
dan tak pernah sanggup menyembunyikannya
dari rembulan mata itu
Komentar
bikin buku puisi mas..
atau bikin buku ajarin caranya bikin puisi.
:D