sepasang mata akhirnya

untuk Febdah Noveliza

di antara langit kulit jeruk mandarin
ranting hujan gemulai patah satu-satu
jatuh menyalakan lampu semacam puluhan kunang-kunang
kerlip itu adalah kutukan yang pulang menuju rumah
sepasang kagum di atas bukit

dan lihatlah sepanjang besar pepohon angsana
betapa itu rencana telah bergeliat 
pergi tamasya ke lubuk musim-musim
yang tumbuh merawat rindang 
untuk teduh di dekap suatu ketika

apakah benar, 
surga menghafal betul jalan menuju ke mata itu?





Komentar

Lizi mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Irma Senja mengatakan…
nice poem pak guru,...hemmm jalan manakah yg hendak dituju ?
andri K wahab mengatakan…
@velizalizi: haha, dihapus?

@Irma Senja: trm ksh ibu guru, jln menuju ke mata hazel, barangkali.

Postingan Populer