merapal rindu dengan sederhana

Sudah larut, pun gulita masuki rimbanya semakin ke tengah. Dalam kepala, siapa sangka itu wajah paling ranum, terjaga penuh usai runtuhnya jaya senjakala pada semesta. 

Kamu. Lagi-lagi melulu merupa itu. Telak jatuh diapapun terbilang aku. Mendesak mulut menghentak lidah. Sejenak merapal rindu dengan sederhana. Setidaknya, itu saja.



Komentar

Noveni As'ad mengatakan…
sederhana tapi bermakna.. :)
andri K wahab mengatakan…
@ Noveni : aih...terima kasih ven :-D
Unknown mengatakan…
tau apa ? subhanallah, sepasang kekasih yang serasi, kamu dan puisi , ya kmu :)
andri K wahab mengatakan…
@ Rahma ama A'syair : terima kasih sudah dikatakan serasi, meskipun sebenarnya saya dan puisi masih penuh penjajakan yg sungguh sepertinya.

Postingan Populer