merapal rindu dengan sederhana
Sudah larut, pun gulita masuki rimbanya semakin ke tengah. Dalam kepala, siapa sangka itu wajah paling ranum, terjaga penuh usai runtuhnya jaya senjakala pada semesta.
Kamu. Lagi-lagi melulu merupa itu. Telak jatuh diapapun terbilang aku. Mendesak mulut menghentak lidah. Sejenak merapal rindu dengan sederhana. Setidaknya, itu saja.
Komentar