di balik jendela angkutan kota
Di matamu, di mataku. Kadang kita tergesa sebut itu saling menyambut. Dari dalam sini belaka memang: satu-satu tumbuh, bias, pun hilang luruh. Dan ketika aku melaju, menderu dipaksa demikian itu. Sudahlah. Anggap segala ini, sekedar puisi tumpah dan kita tak saling benar mengenal.
Sekian.
Komentar
nikmatilah hidupmu agar kamu tidak merasa bosan dalam setiap keadaan.,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.