catatan #71
pada wihaya jemari malaikat menyentuh
muram masam, sekali jauh
muram masam, sekali jauh
kau pun dapati putik merintik
ngambruk, rebah dari rahim ambuda
di dalam kamar di balik jendela
tatapmu lekat khusyuk teropong ujung jalan
nelis nastiti, seluruh bayang hingga copot kutang
"kamu, kapan pulang ?"
cemasmu sebelum teruh
menantiku hingga merah telingaku
sampai-sampai ragaku kopong
gemplung, di sini, namun tak bertuan
dari pijakan aku berandai mampu melancong sekarang
sudah pasti, telingamu kukalungkan bisik aksara warada
mengaras kening melaju hingga terpetik kelopak bibir nan ranum
"andai, lagi-lagi andai"
entah sudah berapa kali kumuntahkan kata itu
bahkan untuk urusan semudah ini kuecap andai lagi
lalu jika begini kapan yah aku sampai padamu?
ngambruk, rebah dari rahim ambuda
di dalam kamar di balik jendela
tatapmu lekat khusyuk teropong ujung jalan
nelis nastiti, seluruh bayang hingga copot kutang
"kamu, kapan pulang ?"
cemasmu sebelum teruh
menantiku hingga merah telingaku
sampai-sampai ragaku kopong
gemplung, di sini, namun tak bertuan
dari pijakan aku berandai mampu melancong sekarang
sudah pasti, telingamu kukalungkan bisik aksara warada
mengaras kening melaju hingga terpetik kelopak bibir nan ranum
"andai, lagi-lagi andai"
entah sudah berapa kali kumuntahkan kata itu
bahkan untuk urusan semudah ini kuecap andai lagi
lalu jika begini kapan yah aku sampai padamu?
Komentar
dan sudah...
namun ragaku, belum...
atau memang tak akan pernah ???...^_^