sepasang pelukan di tengah kota paling berusia

seperti cahaya ingin padam 
dalam dekapan itu 
redup ruang sedang mencukupi mata
dua tubuh saling mengalir 
hangat dan menyadap 

sore melekat itu 
di jendela matahari sibuk memotong waktu
menanak lengan-lengan
merengkuh jingga yang jatuh
menghidupi aroma-aroma 
 
di sepanjang bukit meninggi 
kelok jalan sudah berpuluh anak tangga 
biar sebentar berdiri asyik sendiri 
mematung bunyi pada jam besar
di tengah kota paling berusia

dan kita sepulang dari sana
semoga senantiasa mujur senasib
dalam sejarah anggur romansa 








Komentar

Lizi mengatakan…
Akhirnya, puisi sepasang pelukan hadir disini.
andri K wahab mengatakan…
@velizalizi: akhirnya dipenuhi juga permintaannya :-D
Obat Herbal Polip Hidung mengatakan…
Keren puisinya, bner-bner puitis
andri K wahab mengatakan…
hehehe, terima kasih tukang obat :-D

Postingan Populer