menziarahimu
Pulanglah ke dalam jauh waktu
Tempat kutemukan hujan bermain di daun-daun dahulu
Pun riang kecipaknya di belah tawa oleh dingin begitu deras memerangkap usia
Sejenak, kayu bakar itu biar belaka ditaruh tungku dalam kepala
Semoga hangatnya memanjat bibir yang curam
Meminta dengus napasnya kembali teramat dekat di denyut jantung yang semakin mahir menuturkan pengalaman kali pertama: aku jatuh, bangun, berlari mengejar roda-roda sepeda, meninggalkan rumah untuk cinta yang pandai memanjat pohon kelapa ternyata
Duhai, gerbang surga terdekat, kenangan apalagi tak sehijau rerumput dan membangunkan kerinduan berderak di setapak jalan menuju tempat tidurmu yang hening lapang di sana
Aku, biarkan nanti larut di puja-puji
Khidmat membasuh kaki-kaki angin timur mendekati barat laut
Tempat kutemukan hujan bermain di daun-daun dahulu
Pun riang kecipaknya di belah tawa oleh dingin begitu deras memerangkap usia
Sejenak, kayu bakar itu biar belaka ditaruh tungku dalam kepala
Semoga hangatnya memanjat bibir yang curam
Meminta dengus napasnya kembali teramat dekat di denyut jantung yang semakin mahir menuturkan pengalaman kali pertama: aku jatuh, bangun, berlari mengejar roda-roda sepeda, meninggalkan rumah untuk cinta yang pandai memanjat pohon kelapa ternyata
Duhai, gerbang surga terdekat, kenangan apalagi tak sehijau rerumput dan membangunkan kerinduan berderak di setapak jalan menuju tempat tidurmu yang hening lapang di sana
Aku, biarkan nanti larut di puja-puji
Khidmat membasuh kaki-kaki angin timur mendekati barat laut
Komentar