perihal hari-hari yang belum dijejak rencana
Di paras cermin
Alangkah tekun ini wajah merupa-rupa
Perihal hari-hari yang belum dijejak rencana
Pun doa-doa yang tak sedang ingin menyerah
Mendudukan cangkir demi cangkir saling berseberangan
Di meja cokelat yang melelehkan raya matahari
Hingga langit belaka mengaku cantik
Paling jingga, paling engkau sepertinya
Lalu kepada jurang matanya
Kubiarkan saja kata-kata merapuhkan sayap-sayapnya sendiri
Jatuh penuh lembut dari pada getar nadi
Sampai tengah palung dadanya terengkuh tebal rindu yang aku
Wahai, kekasih yang belum
Akulah kenangan itu
Kenangan yang madu, paling engkau dan Tuhan akan abadikan
Berbahagialah...
Atas bahagiaku yang telah dinisankan cermin sekarang
Alangkah tekun ini wajah merupa-rupa
Perihal hari-hari yang belum dijejak rencana
Pun doa-doa yang tak sedang ingin menyerah
Mendudukan cangkir demi cangkir saling berseberangan
Di meja cokelat yang melelehkan raya matahari
Hingga langit belaka mengaku cantik
Paling jingga, paling engkau sepertinya
Lalu kepada jurang matanya
Kubiarkan saja kata-kata merapuhkan sayap-sayapnya sendiri
Jatuh penuh lembut dari pada getar nadi
Sampai tengah palung dadanya terengkuh tebal rindu yang aku
Wahai, kekasih yang belum
Akulah kenangan itu
Kenangan yang madu, paling engkau dan Tuhan akan abadikan
Berbahagialah...
Atas bahagiaku yang telah dinisankan cermin sekarang
Komentar
Balas kunjungan : http://f4ndhy.blogspot.com/2013/02/bukan-karena-kami-rakus.html
@ Tjuandha : waduh, bisa langsung kelabu begitu :-D