selepas usia mendekap larut
Ini waktu belaka kupulang, Sayang
Selepas usia mendekap larut dan basi angka-angka dalam almanak
Terecap mengaku semakin kecut
Aku, entahlah, senasib makhluk merasa hebat kebanyakan
Lusuh pulang menemu sejatinya pelukan
Ketika semesta akhirnya mengaku hanya sebatas nisan-nisan kesedihan
Pun kecupan mangkir mendarat menyelematkan
Oh, Sayang
Tenggelamkan aku
Hilang menuju kesunyian yang lembut dan sejenisnya
Hingga sampai di cinta yang Kau semata
Selepas usia mendekap larut dan basi angka-angka dalam almanak
Terecap mengaku semakin kecut
Aku, entahlah, senasib makhluk merasa hebat kebanyakan
Lusuh pulang menemu sejatinya pelukan
Ketika semesta akhirnya mengaku hanya sebatas nisan-nisan kesedihan
Pun kecupan mangkir mendarat menyelematkan
Oh, Sayang
Tenggelamkan aku
Hilang menuju kesunyian yang lembut dan sejenisnya
Hingga sampai di cinta yang Kau semata
Komentar
terlalu sempurna sore ini.
Ada kopi, puisi, lagu, langit yang jingga.
Tapi ada yang kurang, dekapan hangat kekasih.
Yang masih jadi rahasia Tuhan.
@ Muhammad Firmansyah : klo gitu carilah bro :-D
@ Na : boleh banget :-*
@ Zoel's : hahaha...emng aneh banget zoel :-P
@ Sonyawinanda : hahaha...puisi kamu bukannya lebih keren dari puisi saya yh ?. :-D
^o^
Cheers,
Yulia Rahmawati
@ Yulia Rahmawati : terima kasih, hmmm itu bukan gambar saya, tepatnya boleh ambil dari google. :-D