yang terjadi setelah pukul satu
matamu punggung rembulan itu
dan larut itu
sewaktu belum habis tinta melautkan kata
selamanya
hujan di luar sedang berdering
dengan rupa jendela-jendela
saling mencekik senyuman
dan dirimu jatuh perlahan
dan dirimu jatuh perlahan
merawat nyeri yang api itu
dukamu bertanya; di mana pagi,
dukamu bertanya; di mana pagi,
pintu paling biru dimulakan?
dan larut itu
kutarik saja jauh ke dalam teduh hutan pinus dadaku
Komentar
@ Ghost Writer : terima kasih bro :-D
@ Mardita Tri Anggraini : terima kasih :-D