catatan #66
Dua belas tahun lebih kutinggalkan tempat ini, lama sekali hingga tak kukenali wajah-wajah ramah serupa malaikat yang masih setia dengan rupaku. Namaku.
Ah, kalian ini seperti braile saja di hadapan si buta yang tak berjemari. Seandainya tak lahir cahaya sudah pasti wajah malu ku disantap habis oleh gulita. Malu, malu dan malu. Gemanya pun membuntutiku sampai peluk perpisahan kala kemarin.
Hmmm, terima kasih untuk kalian yang ikhlas menjadi kalam untuk ingatanku yang mulai terbatas. Semoga usia berkenan temani ragaku, mengecup kening kalian.
Komentar
atap rumah dan kamu sama tingginya tuh , kalau masuk rumah pasti menunduk :P
-----
sejak kau tinggalkan indahnya warna
tetap pada satu harapan
kau adak kembali
nanti ...
muka para tetua mulai samarkan rasa
ingin memeluk antara bahagia dan duka
tak seperti seruaknya kota
^_^
hihi...yh seperti rumah2 joglo di desa pd umumny shell, pendek2 atapny...klo orang yg baru dtng pasti selalu kejedot stiap mo msk rumah...^_^
walau begitu entah mengapa
terkadang jika ku berlama-lama di desa
akhirnya ku kembali merindukan kota, bahkan sangat...